Pencapaian kompetensi peserta didik
dalam bahasa Inggris tidak cukup melalui tes tulis saja, akan tetapi juga tes
lisan. Salah satu ketrampilan yang dalam perkembangannya paling bermasalah
antara lain reading narrative text.
Faktanya,
sebagian besar siswa mengalami kesulitan dalam mengidentifikasi isi teks. Hal
ini diketahui ketika siswa menjawab pertanyaan yang diberikan guru baik secara
lisan maupun tulisan. Hanya sebagian kecil siswa yang mampu mengidentifikasi
isi teks secara tepat.
Ada beberapa
faktor yang mempengaruhi tidak optimalnya pencapaian hasil belajar siswa dalam
reading teks narrative tersebut. Antara lain daya dukung sarana. Faktor yang
pertama ini tentu sangat mempengaruhi hasil belajar siswa. Daya dukung sarana
yang baik akan memberikan dampak positif terhadap pencapaian hasil belajar
peserta didik, begitu juga sebaliknya. Kenyataannya, daya dukung sarana yang
ada tidak cukup membantu pencapaian hasil
belajar yang optimal.
Faktor berikutnya adalah model pembelajaran dan suasana kelas pada saat pembelajaran berlangsung. Model pembelajaran dan suasana kelas adalah dua faktor yang saling mempengaruhi. Model pembelajaran yang komunikatif akan menciptakan suasana kelas yang kondusif. Faktanya, dalam proses pembelajaran sehari-hari, untuk mengidentifikasi sebuah teks narrative, siswa terlebih dahulu diminta mencari kata sulit (difficult words) yang ditemukan dalam teks berikut artinya, kemudian menerjemahkan keseluruhan teks ke dalam bahasa Indonesia. Sebagai bagian dari siklus pembelajaran bahasa Inggris (Building Knowledge of the Text), tindakan ini memang tidak salah dilakukan. Akan tetapi jika pada siklus pertama ini hanya semata-mata ditekankan pada penguasaan kosa kata tanpa mengikutsertakan kompetensi linguistik yang lain, akan berakibat siswa tidak mampu mengcover isi teks dengan tepat karena keterbatasan kompetensi linguistik. Pilihan model ini tidak sepenuhnya salah, akan tetapi terkesan tidak komunikatif . Itulah mengapa, diperlukan inovasi untuk menciptakan suasana belajar yang lebih interaktif untuk membantu pencapaian kompetensi peserta didik secara optimal.
Inovasi sangat mungkin, bahkan harus
dilakukan. Seorang pendidik harus mencari resep yang mujarab untuk mengobati
persoalan yang dihadapi siswa dalam proses pembelajaran seperti paparan di
atas. Seyogyanya, di awal semester pendidik sudah harus tahu kesulitan siswa
dan mengatasinya dengan resep yang sudah ditemukan.
Keterlambatan proses pendeteksian
masalah siswa sejak awal berikut solusinya akan mengakibatkan tidak optimalnya
pencapaian target pembelajaran. Secara psikis, siswa semakin tidak percaya diri
untuk menyelesaikan tugas yang diberikan guru. Ketrampilan dan kemampuan siswa
pun tidak akan mengalami peningkatan karena tidak mendapatkan treatment yang
tepat.
Berangkat
dari hal tersebut, penanganan terhadap masalah siswa menjadi agenda krusial.
Masalah yang dihadapi siswa ketika harus mengidentifikasi isi teks narrative berkaitan
dengan penguasaan kompetensi linguistik dan tehnik memahami isi teks.
Kompetensi
linguistik bisa diberikan kepada peserta didik dengan menggunakan pendekatan
ekspositori yang dilakukan secara interaktif dan menarik, misalnya menggunakan game.
Sehingga keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran lebih bisa ditingkatkan. Dengan
demikian diharapkan siswa menikmati proses pembelajaran dan menyerap materi
dalam kondisi yang menyenangkan.
Yang tak kalah penting adalah tehnik
memahami isi teks. Tiap peserta didik memiliki kemampuan yang berbeda dalam
menyerap bahan ajar yang diberikan guru. Sehingga seringkali menimbulkan
kesenjangan kemampuan antara siswa satu dengan lainnya. Dengan tehnik memahami
isi teks yang lama, siswa kurang mampu mengidentifikasi isi teks dan kurang
mendapat kesempatan untuk mengeksplor kemampuan. Oleh karena itu, diperlukan
inovasi untuk meminimalkan kesenjangan dan meningkatkan pemahaman siswa
terhadap isi teks narrative.
Dalam hal ini “pergelaran”,
menjadi patut dipertimbangkan sebagai sebuah solusi efektif untuk membantu meningkatkan pemahaman siswa atas
sebuah teks. Dengan ”pergelaran”, siswa dapat memahami isi teks
secara utuh. Hal ini disebabkan siswa memerankan isi teks secara langsung di
kelas.
Melalui ”pergelaran”, siswa banyak memperoleh kemudahan dalam memahami sebuah teks. Hal ini sesuai dengan pengalaman penulis yang menunjukkan bahwa kegiatan yang melibatkan komunikasi nyata mendorong hasil belajar . Siswa diberi keleluasaan untuk mengeksplorasi kemampuan dan keberanian memerankan tokoh yang ada dalam teks. Keterlibatan siswa ini tentu memberikan dampak positif baik secara kognitif, affektif maupun psikomotorik. Hal itu berbeda halnya jika setiap pemahaman siswa atas sebuah teks selalu dipecahkan hanya melalui bimbingan guru. Gejalanya, tindakan guru lebih cenderung disikapi sebagai tindakan evaluatif. Bahkan, guru tertentu memungkinkan diinterpretasikan siswa melakukan tindakan yang bersifat justifikatif. Sehingga menimbulkan rasa takut bersalah yang berimbas pada sikap pasif siswa. Dengan “pergelaran” , diharapkan sikap pasif siswa berubah menjadi sikap aktif.
“Pergelaran” sebagai sebuah solusi, pertama
dilakukan dengan cara mempersiapkan sarana yang diperlukan. Kemudian beberapa
siswa yang memiliki kemampuan lebih memainkan persebagai model. Sedangkan siswa
yang lain bertugas sebagai komentator. Model dipilih sesuai dengan jumlah tokoh
yang ada dalam teks. Tentu saja, pelaksanaan tindakan ini dilakukan setelah
siswa menjalani siklus Building Knowledge of the Text, dan Modelling
of the Text.
Setelah “pergelaran”
usai, banyak gejala positif yang ditunjukkan siswa. Rasa percaya diri siswa
meningkat, dibuktikan dari banyaknya siswa yang ingin menjadi model berikutnya.
Siswa tidak sungkan lagi mengajukan diri menjadi pemeran dari tokoh yang ada
dalam teks. Gejala tersebut juga bisa dilihat dari perubahan perilaku siswa
yang semula pasif menjadi aktif. Baik model maupun komentator menunjukkan
semangat dan rasa senang untuk terlibat langsung dalam pergelaran. Juga dapat
dilihat dari peningkatan kemampuan siswa ketika memberikan komentar pada model
yang telah memerankan tokoh dalam teks.
Gejala di atas memberikan angin segar
untuk menindaklanjuti model ini. Tindakan selanjutnya adalah siswa berkelompok
dengan komposisi acak. Sehingga memungkinkan untuk memerankan tokoh lintas
gender. Masing-masing kelompok mempersiapkan properti sesuai dengan teks. Siswa
diberikan izin berkreasi dengan properti kelompoknya masing-masing.
Setelah diuji cobakan kembali, jelas terlihat bahwa dengan solusi melalui“ pergelaran” , tingkat pencapaian pada diri siswa dapat diindikasikan dengan jelas. Diantara gejala perubahan yang muncul dapat dikelompokkan dalam :
a.
Perubahan sikap siswa.
Perubahan sikap siswa dari yang semula acuh tak acuh menjadi lebih perhatian dari sebelumnya. Siswa menjadi lebih fokus pada pergelaran yang digelar karena memiliki daya tarik yang menyedot perhatian siswa.
b.
Perubahan perilaku siswa
Perubahan perilaku dapat dilihat dari siswa
yang semula pasif menjadi aktif. Mulai dari mempersiapkan properti, materi
sampai dengan memanfaatkan kesempatan bertanya dan menjawab.
c.
Peningkatan kemampuan siswa
Peningkatan kemampuan siswa dapat
dilihat dari 2 segi :
1.
Segi penampilan .
Tiap kelompok memberikan penampilan yang berbeda-beda.
Secara prinsip, semua kelompok mengalami kemajuan baik dari segi linguistik
maupun tindak bahasanya.
2.
Segi pemahaman isi teks
Dengan menggelar pergelaran di kelas, siswa
lebih memahami isi teks. Hal ini terlihat dari setiap jawaban yang dilontarkan
siswa atas pertanyaan dari guru.
d.
Peningkatan kepercayaan diri siswa.
Percaya diri siswa semakin meningkat
dengan adanya pergelaran. Dengan treatment yang baru, siswa
mendapatkan jalan keluar untuk memahami sebuah teks. Hal ini membuat siswa
menjadi percaya diri untuk menampilkan jawaban maupun menunjukkan penampilan
kelompok.
Semua
aktivitas yang diulang-ulang tentu mengundang rasa bosan. Begitu juga dengan
model ini. Untuk mengantisipasinya,
harus disiapkan solusi antisipasi agar target pembelajaran tercapai.
Solusi
yang dimaksud adalah mengidentifikasi isi teks narrative dengan menggunakan pergelaran
boneka kertas. Secara prinsip, solusi ini sama dengan pergelaran tersebut
di atas. Perbedaannya terletak pada pemainnya. Tentu dengan solusi alternatif
ini diharapkan pembelajaran komunikatif-interaktif tetap bisa dilaksanakan
untuk mencapai target pembelajaran yang optimal.
Pergelaran
sebagai solusi alternatif memberikan dampak yang efektif dalam proses
pembelajaran dan pencapaian target pembelajaran. Model ini dapat dilaksanakan
dengan kerjasama yang saling mendukung antara guru, siswa, dan pihak sekolah
untuk membantu menyiapkan daya dukung sarana.
Bagi guru, model ini dapat digunakan sebagai solusi alternatif ketika ketercapaian target pembelajaran dirasa minim kualitas. Model ini juga bisa digunakan untuk mengukur hasil belajar peserta didik.
Bagi siswa, model ini membantu mempermudah mengidentikasi isi teks narrative. Selain itu, model ini dapat juga menambah rasa percaya diri siswa.
Tidak
hanya reading narrative text, model ini bisa dan sangat memungkinkan
direplikasi untuk ketrampilan yang lain, baik speaking, listening, maupun
writing.
Tidak
menutup kemungkinan model ini pun bisa direplikasi untuk mata pelajaran yang
lain. Tentu, dengan modifikasi yang dosesuaikan dengan ciri khas masing-masing
mata pelajaran.
Posting Komentar
Click to see the code!
To insert emoticon you must added at least one space before the code.